FTTM ITB, Cita-Cita Yang Takkan Pernah Tergapai

FTTM ITB, Cita-Cita Yang Takkan Pernah Tergapai
Pernahkah kamu memiliki banyak keinginan, harapan, angan-angan, dan cita-cita?
Pernahkah kamu memikirkan dan menuliskan hal-hal yan kamu impikan tercapai pada titik tertentu dalam hidupmu?
Dan pernahkah kamu mendapati bahwa sebagian impianmu tidak akan pernah menjadi kenyataan, dan sebagian harapanmu mustahil untuk diwujudkan?

Aku pernah.

Dari kecil aku mempunyai banyak keinginan, banyak harapan, dan cita-cita. Aku rajin memikirkan ketika aku sudah meraih impian dan cita cita. Namun, pada suatu waktu impian yang sangat kudambakan harus dibuang jauh jauh karena mustahil untuk meraih hal itu. Perasaan marah, benci, iri, dan kecewa bersemayam di dalam diriku. Aku bertanya kepada-Nya, mengapa Ia mengizinkan aku gagal untuk menggapai cita-cita yang begitu aku impikan. Aku tahu bahwa aku tidak pantas untuk mempertanyakan keputusan-Nya tetapi kekecawaan yang begitu besar membuatku melakukannya. Di luar aku terlihat biasa saja, seperti anak yang tumbuh besar tanpa masalah apapun tetapi di hati ini rasanya tidak bisa di ungkapkan. Ingin meninggalkan semua tetapi aku ingat bahwa biaya meninggal lebih mahal daripada biaya hidup.

Hingga pada suatu masa, aku bisa melupakan semua impian bias itu dan melanjutkan mengarungi kehidupan yang lebih baik setelah merenung di kaki Gunung Muria. Alam tidak pernah ingkar pada keindahan dan keindahannya membuatku merasa lebih baik dalam masa pelarian. Selain perenungan, aku juga pernah membaca suatu syair yang berbunyi
God is too wise, to be mistaken
God is too good, to be unkind
So when you don’t understand, when you don’t see His plan
When you can’t trace His hand
Trust His Heart
Syair itu membuatku sadar bahwa Ia menyelamatkanku dari impian yang dapat membuatku tak lebih baik dari sekarang ini. Seharusnya aku bersyukur atas nikmat yang diberi-Nya karena apa yang kudapatkan selama ini ada campur tangan dari-Nya. Tanpa-Nya aku hanya manusia biasa yang penuh dengan keegoisan yang membuatku buta akan dunia.

Saat itu aku terlalu bersikap tidak selayaknya seorang lelaki sejati. Aku bersikap seperti anak-anak yang menginginkan mainan dan keinginannya harus terkabul. Saat itu aku tidak bersikap sebagai hamba-Nya yang harus patuh kepada keputusan terbaik yang telah diambil.

Ketika kamu merasa keadaan di sekelilingmu tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu, jangan takut! Allah, Sang Pencipta sedang dan akan terus bekerja menggenapi rencana-Nya di dalam dan melalui dirimu.

Selamat tinggal impianku, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB :)

Ketika SMP ingin masuk FTTM ITB tetapi mendapatkan jurusan IPS saat SMA. Ketika SMA ingin masuk FIB Antropologi UGM, sudah keterima sih tapi Gusti Allah lebih ridho di Kebendaharaan Negara Politeknik Keuangan Negara STAN

Share this

Add Comments


EmoticonEmoticon